Spektrum Pendidikan Sains Abad 21


Oleh: Habibi BK, Dosen Universitas Wiraraja Sumenep
Dunia bermetamorfosis dengan cepat di abad 21. Jika sebelumnya kita merasa aman bersandar pada sains dan teknologi sebagai jaminan sukses, maka tidak demikian dengan abad yang baru ini. Sandaran mutlak para positivis pada kebenaran obyektif telah rontok, seiring kegagalan kebenaran kaku itu menciptakan tatanan yang damai, bersih dan berkelanjutan di muka bumi.

Kegagalan yang dimaksud adalah bagaimana sains modern dengan pandangannya bahwa alam semata-mata adalah obyek, yang telah melahirkan jiwa eksploratif dan eksploitatif ekstrim manusia. Kita demikian sibuk mempelajari alam untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia yang tak pernah ada ujungnya. Itupun terbatas pada kelompok-kelompok dominan. Alam dipandang tak punya hak untuk hidup dan mempertahankan kelangsungan jenis mereka. Juga, hak untuk memiliki tempat hidup yang layak dan bersih. Polusi ekstrim di banyak tempat karena industri dan transportasi, pemanasan global dan punahnya banyak spesies tahun demi tahun menjadi wajah menyedihkan bumi saat ini. Bahkan, manusia tak luput dari bahan uji coba, tubuh dan gen kita seolah menjadi mainan yang bisa dibongkar pasang. Penyakit-penyakit secara instan seolah dapat disembuhkan, namun sebenarnya kualitas kesehatan manusia semakin memburuk.

Glen Aikenhead, pakar sains indigenous dari Kanada mengkritik kekakuan pandangan dunia selama ini. Sains yang dipandang sebagai pengetahuan terbaik dibongkarnya, satu demi satu ia menunjukkan bahwa sebagai suatu hasil karya cipta manusia sains juga memiliki batasan-batasan. Salah satunya adalah pandangan bahwa alam dan mahkluk selain manusia adalah semata-mata adalah obyek yang tidak memiliki hak apapun. Selain itu, sains modern yang merupakan subkultur barat secara kaku diajarkan secara langsung di sekolah-sekolah nonbarat tanpa penyesuaian dengan pengetahuan tradisional setempat menyebabkan munculnya fenomena imperialisme pengetahuan.

Sejak awal kebangkitan pendidikan modern kecenderungan kuat yang terjadi adalah menjadikan sains sebagai sesatunya pengetahuan yang benar untuk memahami alam. Anak-anak ke sekolah diharuskan untuk memenuhi isi kepala mereka dengan pengetahuan empiris-rasional tersebut. Sementara pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya yang berasal dari kakek nenek dianggap kuno dan harus dibuang. Negara-negara kecil dan berkembang akan merasa menjadi lebih maju dan beradab jika anak-anak mereka telah ber-otak sains. 

Ketika sains modern dikritik oleh orang-orang barat sendiri, akan kegagalannya untuk mengerti hubungan alam dan manusia, mulailah kita menjadi kaget. Padahal sejak sebelum merdeka, Bapak pendidikan kita Ki Hadjar telah mengingatkan dan juga mencontohkan bahwa kalau mau belajar dari bangsa luar harus menggunakan kaidah trikon (konvergen, konsentris dan kontinyu). Konvergen artinya boleh mempelajari pengetahuan dari luar yang baik-baik, tapi konsentris yang artinya harus disesuaikan dulu dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang kita miliki sendiri dan prosesnya harus berlangsung secara kontinyu agar integrasi keilmuwan berlangsung secara mulus dan tidak merusak. Sayang, tampaknya kita telah merasa cukup puas memajang foto Ki Hadjar di buku-buku dan memperingati hari kelahirannya, tapi kurang menghargai betul pemikiran beliau.

Saat ini telah bermunculan para pemikir dan peneliti pendidikan dunia yang menyerukan agar nilai-nilai dan pandangan holistik pengetahuan pada banyak bangsa juga digali kembali. Cobern dari Amerika, Ogawa dari Jepang, Suastra dan Suryadharma dari Indonesia adalah beberapa nama yang dapat kita temukan di berbagai artikel ilmiah. Lembaga internasional UNESCO juga telah memberi perhatian pada kelebihan dan kearifan masyarakat indigenous, dan meminta para praktisi pendidikan untuk menggali sumber-sumber kekayaan intelektual alternatif selain sains modern. Indonesia dengan kekayaan alam dan kultur memiliki potensi untuk memenuhi harapan ini. Dalam sejarah, bangsa kita adalah bangsa yang besar. Logikanya, nenek moyang kita pasti memiliki sistem berpikir dan nilai hidup yang juga luar biasa, sayangnya tenggelam, salah satunya karena proses panjang kolonialisme.

Penyair besar Rendra menuliskan kegalauannya akan problem pendidikan di negeri ini puluhan tahun silam dalam sajak seonggok jagung. "Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya? Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota kikuk pulang ke daerahnya? Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: Di sini aku merasa asing dan sepi!"

Perubahan paradigma keilmuan harus diimbangi oleh implementasi pada aspek pedagogi. Dunia kini menjadi sangat sempit oleh teknologi informasi dan transportasi, sehingga para ilmuwan mendamba dapat hijrah ke planet lain yang layak huni. Intelegensi artifisial semakin menunjukkan gejala bahwa masa depan kita akan semakin menjadi mekanis, banyak pekerjaan yang akan ditangani oleh robot. Karena itu pedagogi yang berorientasi masa depan harus menyadari kondisi ini. Jangan hanya mentransfer pengetahuan atau hafalan pada siswa, karena itu semakin mudah dengan kehadiran internet. Apalagi perkembangan pengetahuan semakin cepat. Juga jangan hanya melatihkan hardskill yang akan semakin tertangani oleh mesin. Pendidikan kita harus berubah.

Fisikawan populer Amerika, Michio Kaku, mengatakan bahwa pendidikan sains atau bahkan pendidikan secara umum harus berorientasi pada kemampuan yang memang hanya dapat dilakukan oleh manusia tak tergantikan mesin pintar, seperti berpikir kritis-kreatif, kemandirian belajar, seni, humor, komunikasi dan empati. Dia yakin manusia tetap tak tergantikan oleh robot pada aspek-aspek utama kita sebagai manusia, yang kita ketahui bersama merupakan perpaduan antara dimensi intelektual, emosional, sosial dan spiritual.

Sementara menurut penulis sendiri, sejauh apapun kemajuan sains namun pendidikan tetaplah bertujuan utama mengarahkan kita untuk meraih kemanusiaan dan kebahagiaan. Berapa banyak kita temui orang-orang pintar dan sukses namun hidupnya kering. Abad 21 yang semakin mengkotak-kotak dan memenjara jiwa manusia dalam kesibukan dan deras informasi membuat aspek eksistensial-transendental pendidikan semakin signifikan. Seperti yang pernah dikemukakan oleh almarhum Achmad Baiquni, ketika mengajarkan sains kepada siswa kita harus memagari sains dengan nilai-nilai religius untuk menghindari pengaruh ekstrim materialisme yang membuat jiwa menjadi kering. Dan akhirnya, hanya “jiwa-jiwa yang basah” yang sanggup menyembuhkan bumi dari pemanasan global dan bencana nuklir yang mematikan.

Sumber gambar: google

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.