FDS vs Tradisi Masyarakat

Oleh M. Khoirudin, komunitas dosen menulis.

Setiap pemimpin pasti mempunyai kebijakan, tidak lain halnya kebijakan Kemendikbud yang akan mengubah jumlah hari masuk sekolah yang semula 6 hari menjadi 5 hari dalam satu minggu. Sehingga merubah jam dari 5-6 jam menjadi 8 jam per harinya.

Sebuah kebijakan yang menyebabkan Pro dan Kontra, tidak sedikit kalangan masyarakat yang berkomentar tentang kebijakan tersebut. Jika benar-benar dilaksanakan, lantas bagaimana dengab pendidikan keagamaan yang dilakukan di setiap Masjid/ Mushola yg selama ini sudah berjalan dan dilaksanakan mulai pukul 15.00 sampai dg selesai sehingga mampu mencetak generasi emas.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa masyarakat menolak dengan kebijakan Kemendikbud tersebut. Jika kita amati pendidikan seorang anak yang ada di desa berlangsung hampir 24 jam. Mulai dari subuh membantu orang tua untuk bersih bersih. Bagi yang mempunyai ternak harus memastikan kesehatan ternak. Mandi sebentar lalu berangkat sekolah, jika sudah pulang tak lupa membantu orang tua ke ladang atau ke pasar. Sore hari harus berangkat ngaji.

Berbeda dengan di daerah perkotaan yang masyarakatnya super sibuk dan jarang bertemu dengan buah hatinya, sehingga mendukung kebijakan Kemendikbud (FDS) dengan alasan lingkungan yang tidak mendukung serta kesibukan orang tua.

Banyaknya warung kopi, warung internet dan game serta tempat hiburan yang lain, menyebabkan kecemasan orang tua akan perkembangan seorang anak. Pemerintah dilarang galau. Melihat dua sisi seperti mata uang, mau tidak mau  harus memberi keputusan yang adil. Lalu kebijakan apa yg harus diambil?

Saya sebagai masyarakat, dan seorang pendidik mempunyai pandangan. Indonesia adalah Negara kepulauan dan pendidikannya belum bisa disama ratakan. Akan lebih baik jika pendidikan di Indonesia menyesuaikan kebutuhan pada setiap daerah masing2, sehingga tidak memaksakan untuk 5 hari sekolah. Kewajiban manusia bukan sekolah, tapi belajar. Jadi Pendidikan tidak harus di dalam kelas dan mencoret sebuah kertas, tetapi pendidikan harus bisa membuat seorang anak mengerti akan sebuah arti kehidupan.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.