Praktik Pendekatan Interdisiplin pada Kajian Islam di Jurnal Internasional Indonesia
Kajian ini menemukan bahwa kajian Islam telah diintegrasikan antara ilmu-ilmu Islam tradisional dengan ilmu-ilmu sosial-humaniora dengan pendekatan interdisipliner. Cakupan tema dan perspektif keilmuan juga sangat beragam dan luas. Artikel ini selanjutnya menyimpulkan bahwa kajian Islam kontemporer di Indonesia dengan pendekatan interdisipliner menjadi titik temu dari dikotomi perspektif antara subjektif dan objektif. Dalam istilah lain pendekatan ini dapat disebut dengan intersubjektif. Kajian ini tidak sependapat jika kajian Islam masih terjebak pada dikotomi perspektif dan artikel ini dapat berkontribusi untuk pengembangan studi Islam yang interdisipliner.
Kajian Islam di Indonesia maupun di dunia memiliki keragaman model dan pendekatan. Demikian pula dalam konteks Barat maupun dunia Islam (non Barat), kajian Islam terus hidup dan berkembang baik dalam metodologi maupun hasilnya. Namun problemnya seolah terjadi pemisahan kajian Islam antara tradisi Barat dengan tradisi Islam. Kedua bentuk kajian tersebut kecenderungannya bertolak belakang. Kajian Islam yang dilakukan oleh orang Islam sendiri dianggap subjektif, normatif dan yang dilakukan oleh orang bukan Islam lebih objektif, historis dan ilmiah. Dalam perspektif Kim Knot hal itu disebut dengan perspektif insider-outsider.
Kajian Islam di dunia Barat sangat berkembang cepat. Bahkan istilah kajian Islam itu sendiri nomenklaturnya dari Barat. Istilah ini bermakna kajian tentang Islam. Islam dan Muslim sebagai objek ilmu yang dikaji dengan berbagai pendekatan. Islam dikaji bukan untuk diyakini namun sebagai ilmu pengetahuan yang dapat didekati dengan sains. Orientasi Kajian Islam di Barat pun telah mengalami evolusi, dari misionarisme, kolonialisme hingga ke arah pendidikan antar agama yang dialogis kritis, dan perkembangannya ke arah ilmu sosial dan humaniora.
Sementara di dunia Islam istilah kajian Islam belum lama dikenal. Universitas al-Azhar Kairo Mesir menggunakannya dengan membuka Fakultas Studi Islam dan Arab pada tahun 1965. Istilah yang sudah lama di kenal di dunia Islam adalah ulum al-din, usul al-din, ilm al-naqliyah, ilm al-aqliyah, seperti yang dikembangkan oleh al-Ghazali, Ibn Taimiyyah, dan tokoh muslim klasik lainnya. Istilah ini selanjutnya yang mewarnai nama fakultas di universitas Islam di dunia. Umumnya kajian ilmu-ilmu ini bersifat subjektif, untuk diimani dan didakwahkan.
Pertanyaannya apakah kajian Islam yang dikembangkan oleh masyarakat Muslim saat ini perspektifnya masih subjektif-normatif, atau bergeser ke objektif, ataukah menyatukan keduanya (intersubjektif) dengan pendekatan interdisipliner? Artikel ini secara empiris menyelidiki apakah dan bagaimana pendekatan interdisipliner digunakan seperti yang terlihat dalam isi jurnal-jurnal kajian Islam terkemuka yang diterbitkan oleh perguruan tinggi Islam Indonesia. Pendekatan ini merupakan titik temu dari perspektif insider dan outsider dengan kata lain disebut perspektif intersubjektif.
Artikel ini memperkuat kajian yang menunjukkan bahwa kajian Islam di Indonesia memiliki corak tersendiri sebagai bentuk kajian Islam postorientalis/dekolonisasi studi Islam (Ali, 2025; Hefner, 2025; Hoesterey, 2025; Smith-Hefner, 2025; Woodward, 2025). Artikel ini tidak sependapat dengan pandangan yang masih mendikotomikan perspektif dalam kajian agama dan yang menyatakan bahwa kajian Islam antara tradisi Barat dengan tradisi Islam kecenderungannya adalah bertolak belakang (Stenberg & Wood, 2022, p. 1).
Artikel ini dapat berkontribusi dalam pengembangan kajian Islam ke depan dengan pendekatan yang interdisipliner yang perspektifnya adalah intersubjektif. Secara praktis kontribusi kajian ini dapat dijadikan bahan pengembangan perguruan tinggi Islam dalam melakukan kajian ilmu-ilmu Islam.
Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel yang berjudul "Applying Interdisciplinarity: An Analysis of Approaches in Leading Islamic Studies Journals in Indonesian Islamic Higher Education" yang terbit di jurnal Society, terbitan Springer bulan April tahun 2026 yang terindeks Scopus Q2. Versi lengkapnya dapat dibaca secara online di sini.

Tidak ada komentar